Ngider Buana Dalem Sidakarya


Dari legenda masyarakat Hindu di Bali topeng Sidakarya wujudnya berwajah jelek dengan gigi merangas sebagai simbol dari pandita yang wajahnya mirip gelandangan. Karena itu, penari Topeng Sidakarya biasanya lebih banyak menutup wajah terutama mulut dengan kain putih yang dibawanya. Namun, mantra yang diucapkan sangat bertuah salah satunya pada saat prosesi menebar sekar ura ngider buana (kesegala arah) untuk menetralisir bhuta. Ngider buana yang dilakukan pada tarian topeng Sidakarya tidak terlepas dari peranan Dewata Nawa Sanga dalam segala penjuru arah yang menjadi kekuatan penegteg jagat atau kestabilan alam ini. Dalam tarian topeng Sidakarya terdapat adegan penari topeng Sidakarya menebar sekar ura ngider buana sambil berputar ke kanan searah perputaran jarum jam yang disebut dengan murwa daksina yang memiliki makna penetralisir bhuta atau nyomyang bhuta yang kerap mengganggu, agar meningkat menuju alam dewa dengan harapan dapat membantu kesejahteraan hidup manusia pada fase berikutnya. Sidakarya dalam kaitannya dengan ritual berposisi pada catuspata, sebuah titik sentral pusat keseimbangan antara alam bhur, bwah, dan swah. Secara vertikal memupuk kesadaran akan kekuatan bhutadi dari kekuatan bumi dengan kekuatan akasa sebagai unsur utama panca maha bhuta yang membentuk dunia dengan segala isinya. Secara horizontal ke samping sesama manusia sebagai mahluk individu dalam ikatan sosial kekerabatan dalam masyarakat hendak hidup serasi selaras berdampingan berdasar cinta kasih demi kesejahteraan bersama.

Adapun dalam tari topeng Dalem Sidakarya terdapat adegan ngider buana dengan tujuan atau memiliki makna penetralisir bhuta atau nyomyang bhuta agar meningkat menuju alam dewa menurut posisinya masing-masing sesuai dengan Dewata Nawa Sanga. Dalam Dewata Nawa Sanga tersebut terdapat sepuluh aksara suci atau wijaksara, yaitu : Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, dan Yang. Kesepuluh aksara ini berasal dari delapan aksara wianjana (sa, ba, ta, na, ma, si, wa, ya) dan dua buah aksara suara (a dan i). Kalau kesepuluh aksara ini dirangkai dalam kata-kata akan terbentuk sebuah kalimat, yang bunyinya sabatai nama siwaya. Kalimat ini merupakan ungkapan doa untuk memuliakan Dewa Siwa. Diantara para dewa, Sang Hyang Siwa paling dimuliakan oleh umat Hindu di Bali.

Akan tetapi dalam pementasan tari Dalem Sidakarya ngider buana yang dilakukan hanyalah di lima arah mata angin yaitu : Timur, Selatan, Barat, Utara, dan Tengah. Dalam tari Dalem Sidakarya tersebut ada pengubahan dari dasa aksara menjadi panca aksara untuk mewakili semua arah mata angin. Panca aksara  terdiri dari lima aksara suci yakni penggabungan secara berurutan dari masing-masing aksar suci pada Panca Brahma (sang, bang, tang, ang, ing) dengan Panca Tirta (nang, mang, sing, wang, yang) sehingga diperoleh Sang menyatu dengan Nang menjadi Mang, Bang menyatu dengan Mang menjadi Ang, Tang menyatu dengan Sing menjadi Ong, Ang menyatu dengan Wang menjadi Ung, Ing menyatu dengan Yang menjadi Yang.


Komentar

Art & Design